BUDIDAYA CACING DI SUKUN, MALANG
Pak Adam memulai bisnis budidaya cacing ini 18 Agustus 2010. Ketika itu, pak Adam memulai usaha beternak cacing. Awalnya sama sekali tidak terlintas di benak Adam mengenai usaha beternak cacing ini. Waktu itu, sarjana Teknik Industri tersebut memutuskan keluar dari perusahaan kertas terkemuka di Jawa Timur karena sesuatu hal.
Sejak saat itu, pak Adam memutuskan untuk beternak belut. Pada waktu itulah dia baru tahu kalau makanan belut adalah cacing. Selama sekitar setahun beternak belut, usaha pak Adam relatif gagal terus-menerus. pak Adam merasa telah gagal total. Saat itu yang tersisa hanya sekitar 6 kilogram cacing pakan belut.
Kertas dan besi bekas
Merasa gagal dalam bidang peternakan, Adam kemudian mencoba peruntungan lain. Dia berjualan kertas dan besi-besi bekas. Namun, 6 kilogram cacing sisa makanan belut yang dimilikinya tetap dia pelihara.
Bagi pak Adam, cacing-cacing itu adalah makhluk hidup sehingga harus dipelihara dan diberi makan apa pun kondisinya saat itu. Tak disangka, cacing yang semula hanya dipelihara tanpa tujuan tersebut justru terus berkembang.
Pada Agustus 2010 pula pak Adam mencoba menyetor cacing ke pemancingan yang ada di sekitar rumahnya. Rupanya cacing-cacing itu laku dijual dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Bahkan, pemancingan-pemancingan lain pun membutuhkannya. Kebutuhan cacing bagi pemancingan-pemancingan itu sebanyak 5-10 kg per minggu.
Sejak saat itulah pak Adam mulai serius beternak cacing. Apalagi pada Juli 2011 ada permintaan cacing dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Dia diminta untuk menyuplai cacing bagi kebutuhan pakan indukan ikan sekitar 1 ton per bulan. Usaha cacing Adam pun semakin berkembang. Ketika itu harga cacing sudah naik menjadi Rp 50.000 per kilogram.
Januari 2013, saat kebutuhan cacing terus meningkat,pak Adam mulai mengajak kerabat dan teman-temannya untuk turut serta beternak cacing. Awalnya ternak cacing menjadi barang yang dianggap aneh bagi sebagian orang. Namun, ketika mereka tahu bahwa usaha ini menguntungkan, orang- orang pun mulai tertarik untuk mengikuti jejak pak Adam.
Pada Juli 2013 Adam resmi membuka kelas cacing di rumahnya. Kelas cacing inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sekolah cacing yang sekarang diikuti oleh puluhan orang dari sejumlah wilayah setiap minggunya.
”Beternak cacing itu sebenarnya gampang asal kita mau telaten dan serius. Hal yang saya tekankan kepada binaan adalah agar mereka tidak semata-mata beternak cacing, lalu sudah puas dengan keberhasilan menjual cacing,” katanya.
Adam mengatakan, ”Tidak sekadar seperti itu yang saya ajarkan. Saya tekankan kepada mereka bahwa cacing bisa menjadi awal berbagai hal, seperti awal peternakan, perikanan, dan pertanian. Ternak cacing ini harus mendasari peternakan, perikanan, dan pertanian yang ramah bagi alam. Ini demi masa depan kita semua.”
Lewat cara tersebut, pak Adam berusaha mengajarkan bahwa ternak cacing adalah awal untuk usaha yang lebih besar dan berbasis keorganikan. Dia juga mengajarkan bahwa kotoran dan sisa ternak cacing pun bisa dijadikan pupuk kompos untuk menggenjot produksi pertanian (menggantikan pupuk kimia). Cacing pun bisa menjadi pakan sehat bagi ternak ayam atau bebek karena nonkimiawi.
”Intinya, cacing ini hanya fondasi awal. Masyarakat harus punya banyak usaha yang berbasis cacing. Tujuannya, agar secara perlahan kita bisa kembali pada kehidupan yang lebih sehat tanpa bahan-bahan kimia,” kata pak Adam.
”Kita bisa meninggalkan bahan-bahan kimia yang membahayakan tubuh dan alam ini. Semuanya butuh proses, tetapi harus dimulai saat ini juga dan dari diri kita sendiri,” ujar pria yang mendapat penghargaan sebagai aktivis penggiat lingkungan dari Wali Kota Malang pada 2013.
pak Adam sudah memulai upaya kembali ke alam yang sehat bersama sekitar 1.500 binaannya. Dia juga mendirikan Komunitas Pengusaha Pertanian Organik Terpadu (KP2OT) Kota Malang untuk menggencarkan usaha-usaha kembali ke keorganikan.
Upaya pak Adam memperkenalkan cacing pun secara perlahan mengubah perilaku masyarakat setempat untuk hidup bersih dan sehat. Sebab, masyarakat pun tidak lagi membuang sampah organik ke sungai. Sekarang sampah organik disetor kepada para peternak cacing untuk dijadikan pakan cacing.
cara budidaya cacing adalah sebagai berikut:
1. persiapkan lokasi budidaya cacing
dalam suhu15-25 derajat celcius
2.menyiapkan peralatan
*pembibitan cacing, * pemilihan bibit calon indukan, *pemeliharaan bibit indukan,
3. pemuliabiakan
4.perkawinan/reproduksi
5.pemberian pakan
6.penggantian media 2 minggu sekali
7.proses kelahiran
8. panen cacing




Jangan lupa tonton video hasil kerja kelompok kami ya !!!! :) :)
https://youtu.be/JyyAIw5jTqU
YANA DWI AFIANTI (14101045)








